Namun Tetap Memilih untuk Berpaling.
Johanes Widjaja adalah President Director Santika Indonesia Hotels & Resorts, salah satu nama paling berpengaruh di industri perhotelan Indonesia. Dengan pengaruh sebesar itu, datang pula tanggung jawab — bukan hanya kepada para tamu, tetapi juga kepada makhluk hidup yang setiap hari menanggung penderitaan demi menjaga rantai pasok Santika tetap berjalan.
Dan Johanes Widjaja tahu.
Tahu bahwa hewan-hewan dalam rantai pasok Santika kerap dikurung dalam kandang sempit, mengalami mutilasi tanpa pereda rasa sakit, atau dibiarkan mati perlahan dalam penderitaan — semua demi memangkas beberapa sen dari biaya sebuah hidangan. Tahu bahwa sistem yang kejam seperti ini telah dianggap tidak dapat diterima di banyak bagian dunia, namun masih digunakan di tempat-tempat di mana pengawasan paling lemah dan suara paling mudah diabaikan. Tahu pula bahwa banyak pesaing telah bergerak maju, sementara Santika tertinggal, masih mempertahankan praktik yang semakin sulit diterima publik.
Walaupun Santika menyatakan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, diamnya perusahaan dan lambatnya tindakan menimbulkan pertanyaan yang berbeda. Lima Kebebasan— standar dasar yang seharusnya dijamin bagi setiap hewan — masih belum dirasakan oleh jutaan hewan dalam rantai pasok Santika.
Apa yang diputuskan Johanes Widjaja sangat berarti.
Satu keputusan dari seorang eksekutif dapat membantu mengakhiri sebagian dari penderitaan terburuk dalam peternakan industri — penderitaan yang telah berulang kali didokumentasikan dan dikritik oleh berbagai pihak. Namun alih-alih langkah nyata, yang muncul sering kali hanya pernyataan tanpa kejelasan. Alih-alih perubahan, yang terlihat justru penundaan. Alih-alih kepemimpinan, yang muncul adalah kesan pembiaran.
Ini bukan soal kesempurnaan.
Ini soal kepatutan.
Dan kepatutan adalah sebuah pilihan.
Sudah waktunya bagi Johanes Widjaja untuk memilih yang benar.
Di balik telur-telur yang disajikan oleh Santika, terdapat kenyataan mengerikan tentang penderitaan.
Ayam-ayam dijejalkan ke dalam kandang-kandang baterai yang kecil dan gersang, yang sangat sempit sehingga ungga-unggas itu tidak dapat mengembangkan sayap, berputar, atau menunjukkan perilaku alami mereka. Hewan-hewan yang dapat merasa ini direduksi menjadi mesin petelur belaka, menanggung penderitaan seumur hidup dengan berdiri di atas lantai kawat yang dapat melukai kaki mereka dan membuat tubuh mereka memar serta kehilangan bulu. Karena berdesakan begitu rapat, ayam-ayam sering kali saling melukai karena stres dan frustrasi.
Bahkan kebutuhan hidup dasar pun tidak terpenuhi. Tanpa akses ke tempat mandi debu, tempat bertengger, atau udara segar, hewan-hewan yang cerdas dan ingin tahu ini terperangkap dalam dunia tanpa stimulasi dan kenyamanan.
Stres dan kepadatan yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk tulang yang mudah patah dan turun peranakan akibat produksi telur yang tanpa henti. Banyak ayam betina mati di kandangnya, bangkai mereka yang membusuk tertinggal di antara yang hidup sampai pekerja mengeluarkan mereka.
Dalam sistem ini, hampir setiap dari prinsip Lima Kebebasan dilanggar: ayam terbebas dari ketidaknyamanan, rasa sakit, cedera, dan penyakit, kebebasan untuk mengekspresikan perilaku normal, dan kebebasan dari rasa takut dan tertekan.
Namun, Santika mengizinkan para pemasoknya untuk terus menggunakan sistem yang biadab ini.
Santika memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk menghentikan izin atas kekejaman ekstrem ini dalam rantai pasokannya. Publik mengharapkan yang lebih baik, dan hewan berhak hidup bebas dari penderitaan yang kejam dan tidak perlu ini.
Saatnya bagi Santika untuk melakukan apa yang telah dilakukan banyak jaringan hotel terkemuka lainnya di Indonesia dan menetapkan kebijakan yang menjamin Lima Kebebasan bagi hewan dalam rantai pasokannya.
